Seputar SeputarPanduan ringkas untuk pembaca yang ingin paham tanpa bertele-tele.
general

Cerita dari Pulaumaitara: Seputar Terdekat yang Makin Dicari

Pengamatan tentang kebiasaan baru mencari informasi seputar terdekat, dari bertanya tetangga hingga scrolling ponsel.

16 May 2026 · 2 menit baca · oleh Hana Mulyadi
Cerita dari Pulaumaitara: Seputar Terdekat yang Makin Dicari

Bangun pagi dengan perut keroncongan, saya malas keluar rumah tanpa tujuan jelas. Di Pulaumaitara, pilihan sarapan memang tak banyak. Tapi yang bikin penasaran, tujuh tahun terakhir kebiasaan orang sini berubah total. Kalau dulu nanya ke tetangga atau sopir angkot, sekarang tinggal buka ponsel, ketik "seputar terdekat". Gak cuma buat cari makan, urusan bengkel, toko sembako, sampe tempat fotokopi pun dicari lewat layar. Fenomena ini mengubah ritme keseharian kita, termasuk cara saya sendiri menjalani hidup.

Dari Tetangga ke Layar Ponsel: Pergeseran Mencari Info Lokal

Pertama kali denger soal fitur "terdekat" di aplikasi peta itu tahun 2019 dari temen kos. Waktu itu saya masih baru di dunia tulis-menulis, sering kehabisan ide sambil nongkrong di warung kopi. "Tinggal ketik 'kopi terdekat', langsung muncul tempat yang belum pernah dikunjungi," katanya. Awalnya saya anggap remeh. Lama-lama sadar, kebiasaan ini menjalar ke mana-mana. Ibu-ibu arisan sekarang cari katering pake fitur serupa. Anak muda malah cari "tukang cukur terdekat" lewat grup WhatsApp.

Yang menarik, ini bukan cuma soal teknologi. Ada dorongan kuat untuk mengenal lingkungan sekitar lebih cepat. Dulu saya harus keliling kompleks naik sepeda buat tau toko-toko. Sekarang cuma modal scroll sebntar, langsung dapet daftar lengkap plus ulasan. Tapi ada sisi lucunya juga. Ulasan di aplikasi kadang lebay banget. Satu bintang karena antrian panjang, lima bintang cuma gara-gara gratis es teh. Sebagai pencinta review jujur, saya lebih percaya omongan tetangga ketimbang bintang lima palsu Beberapa pertimbangan tambahan di seputar.

Seiring waktu, saya mulai manfaatkan info "seputar terdekat" buat nemuin tempat-tempat unik di Pulaumaitara. Kayak lapak pisang goreng yang cuma buka jam 3 sore atau tukang fotokopi yang hafal halaman buku langganannya. Semua itu gak bakal ketemu kalo cuma ngandelin aplikasi. Justru kebiasaan nanya langsung ke warga masih jadi andalan. Tapi kombinasi keduanya, online dan offline, bikin gambaran lebih lengkap.

Dari sini saya belajar, kata "terdekat" gak selalu soal jarak fisik. Kadang yang terdekat itu informasi yang paling relevan sama kebutuhan kita. Di era serba digital begini, kita tetap perlu pinter milih sumber. Saya sendiri lebih suka cari rekomendasi dari grup komunitas lokal dulu, baru cek rating di aplikasi. Cara itu jarang ngecewain.

Pagi tadi akhirnya saya memilih warung nasi uduk langganan di ujung gang. Bukan karena muncul di peta, tapi karena ingat aroma bawang goreng yang selalu tercium setiap subuh. Terkadang yang terdekat bukan yang paling gampang ditemuin, tapi yang sudah melekat di hati.

Ilustrasi seseorang melihat ponsel sambil memegang secangkir kopi di meja kayu

Sumber lanjutan: sumber resmi

Tag: #komunitas #kebiasaan #lokal