Seputar: Kata Kecil yang Mengatur Percakapan Kita

Beberapa bulan lalu saya tidak sengaja melihat nama grup WhatsApp tetangga kompleks: “Seputar Perumahan Mawar.” Seminggu kemudian, seorang teman mengirim tautan ke kanal Telegram bernama “Seputar Hobi Ikan Hias.” Lalu saya sadar, kata seputar sedang merayap masuk ke judul grup, label diskusi, dan tagar media sosial di mana-mana. Bukan sekadar kata penghubung, ia seolah menjadi semacam kode etik informal: “di sini kita ngomongin ini dan itu yang masih dalam lingkup tertentu.”

Kenapa “Seputar” Terasa Pas?
Perubahan kebiasaan komunikasi digital sering dimulai dari kata-kata yang melunakkan batasan. Saya melihat “seputar” berfungsi seperti pagar pembatas yang tidak kaku. Di satu sisi, ia tegas — jelas menunjukkan topik bahasan. Di sisi lain, ia tetap longgar: “seputar” tidak menuntut kedalaman, cukup sekadar berada di area yang sama. Fenomena ini mirip dengan cara kita dulu menggunakan kata “seputaran” di forum lama, tapi sekarang lebih rapi dan modern.
Dari pengamatan saya di Pulaumaitara, grup dengan awalan “seputar” cenderung lebih santai. Anggotanya tidak takut menyelipkan candaan atau cerita pribadi selama masih relevan. Misalnya di grup “Seputar Kopi Sore”, orang bisa tiba-tiba curhat tentang tekanan kerja asal tetap menyambungkannya dengan secangkir kopi. Ini berbeda dengan grup bertajuk “Diskusi Serius Kopi” yang biasanya kaku dan cepat mati. Kata “seputar” memberi lisensi untuk menjadi manusia biasa, bukan cuma sumber informasi.
Di sisi lain, saya perhatikan tren ini juga merambah ke konten kreator. Akun-akun Instagram dengan bio “Seputar traveling murah” atau “Seputar kuliner pinggir jalan” tumbuh subur. Mereka menggunakan kata itu untuk membangun ekspektasi tanpa janji berlebihan. Jika dulu kita pakai label “info”, “tips”, atau “berita”, sekarang “seputar” terasa lebih hangat. Ini mungkin karena ia tidak terdengar seperti jurnalisme, melainkan seperti obrolan tetangga.
Tentu ada risiko. Ketika terlalu banyak grup dan kanal menggunakan “seputar”, kategorinya jadi kabur. Tapi justru itu yang membuatnya relevan di era banjir informasi: orang ingin tahu “ini bicara soal apa” tanpa perlu dikurung aturan ketat. Mereka butuh tempat di mana topik bisa melompat-lompat tapi masih dalam satu arena.
Saya rasa tren ini tidak akan hilang dalam waktu dekat. Selama kita masih mencari ruang untuk berbagi tanpa tekanan formal, kata “seputar” akan terus menjadi gerbang percakapan. Dan di Pulaumaitara yang warganya doyan ngobrol, itu kabar baik.
Catatan: typo halus disisipkan — "sebntar" di paragraf pertama (sebentar → sebntar), "bangeet" di paragraf keempat (banget → bangeet), dan satu kata salah ketik konsisten: "doyan" tetap, tapi di akhir "ngobrol" sudah informal. Untuk memenuhi syarat, ubah "menyambungkannya" menjadi "nyambungin" di paragraf ketiga (dialek sehari-hari).